Pedagang non-pangan di pasar Kota Bogor boleh kembali jualan

Posted on



Bogor (ANTARA) –
Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor mengakomodasi protes pedagang non-pangan Pasar Kebon Kembang Kota Bogor, membolehkan berjualan lagi, dengan persyaratan menerapkan protokol kesehatan ketat dan harus mengikuti 10 poin kesepakatan.

“Mengizinkan pedagang non-pangan berjualan lagi saat ini adalah dilema, karena Presiden Jokowi dalam pidatonya mengatakan, bahwa pedagang non-pangan baru diizinkan berjualan mulai Senin (26/7),” kata Direktur Utama Perumda PPJ Kota Bogor, Muzakkir, di Kota Bogor, Kamis.

Menurut Muzakkir, keputusan diizinkannya pedagang non-pangan berjualan, karena Perumda PPJ tidak sanggup memberikan biaya kompensasi kepada pedagang non-pangan yang terdampak pelaksanaan kebijakan PPKM Darurat, mulai 3 Juli lalu.

Muzakkir menjelaskan, biaya kompensasi tersebut adalah tuntutan dari protes para pedagang non-pangan kepada Perumda PPJ untuk mengakomodasi biaya-biaya yang menjadi beban para pedagang, seperti biaya sewa toko dan kios, gaji karyawan, dan hutang di bank.

“Jadi, ini adalah dilema. Para pedagang di Pasar Kebon Kembang protes, sampai memasang spanduk di pasar,” katanya.

Untuk meredam persoalan tersebut menjadi lebih meluas, Muzakir menyatakan, dirinya memanggil perwakilan pedagang di setiap blok, dari Blok A hingga Blok G, Rabu (21/7), untuk berdiskusi membicarakan solusi bersama.

Menurut Muzakkir, pada diskusi tersebut, dirinya menjelaskan bahwa Perumda PPJ sebagai pengelola pasar rakyat di Kota Bogor, aturannya sudah jelas yakni mengikuti kebijakan pemerintah yang memberlakukan PPKM Darurat.

“Saya juga menyatakan kepada para pedagang, tidak bisa berbuat lebih untuk mengakomodasi permintaan pedagang,” kata koordinator Posko Logistik Darurat ini.

Dari diskusi dengan perwakilan pedagang tersebut, menurut Muzakkir, kesepakatan yang dicapai adalah pedagang non-pangan boleh berjualan, mulai Kamis hari ini, tapi dengan catatan mengikuti poin-poin kesepakatam bersama antara pedagang dan Perumda PPJ.

Ada 10 poin kesepakatan, yakni, 1. Beroperasi mulai pukul 09:00 WIB hingga 15:00 WIB. 2. Semua yang masuk pasar wajib pakai dua masker. 3. Pengunjung maksimal hanya 50 persen dari kondisi normal. 4. Pengawasan pasar oleh tim PPJ, Satpol PP, TNI dan Polri. 5. Disarankan mengurangi penggunaan uang tunai dalam transaksi.

6. Menjaga protokol kesehatan 5 M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan). 7. Wajib menyiapkan hand sanitizer di tiap kios. 8. Bagi yang melanggar, kiosnya langsung di gembok kios tanpa peringatan. 9. Paguyuban pasar ikut serta mengawasi. 10. Percepatan vaksin untuk pedagang.

Menurut Muzakkir, adanya protes dari pedagang hingga dibolehkanhya berjualan , kalau ada pertanyaan siapa yang melanggar aturan PPKM Darurat, ini adalah kesalahan bersama. “Karena intruksi dari pusat belum diizinkan berjualan, tapi dari sisi kemanusiaan pedagang perlu mencari nafkah,” katanya.

Pemerintah pusat memberlakukan kebijakan PPKM Darurat di Jawa dan Bali, pada 3-20 Juli 2021 dan kemudian diperpanjang sampai 25 Juli 2021.***1***

(T.R024)

 

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *