Cek! Ramalan Buruk Fitch soal Dampak Covid ke Rating RI-ASEAN

Posted on



Jakarta, CNBC Indonesia – Melonjaknya kembali infeksi virus corona (Covid-19) yang menyebabkan sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) kini menghadapi gelombang ketiga pandemi dinilai memperlambat optimisme pasar terkait dengan pemulihan ekonomi. Padahal sebelumnya ekonomi Asia Tenggara diramal pulih pada tahun ini.

Kondisi ini akan mempengaruhi sovereign ratings atau peringkat surat utang di negara-negara Asia Tenggara. Sebab itu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, kembali mengubah proyeksi sovereign ratings Asia Tenggara seiring dengan kembali melonjaknya kasus infeksi Covid-19 di kawasan tersebut.

Proyeksi sovereign ratings dapat berbeda-beda, tergantung tingkat keparahan pandemi, efektivitas penerapan kebijakan darurat untuk menahan kasus infeksi kembali melonjak (termasuk vaksinasi), dan upaya pemerintah untuk meminimalisir kembali jatuhnya ekonomi.

Fitch sudah merevisi proyeksi surat utang Filipina menjadi BBB dengan outlook negatif (BBB-) pada awal Juli.

Memang pandemi Covid-19 di Filipina tidak menyebabkan perekonomian berdampak parah, tetapi jika dilihat dari tahun 2020, kontraksi ekonomi Filipina sangat dalam.

Oleh karena itu, Fitch memperkirakan adanya risiko downside terhadap prospek pertumbuhan jangka menengah akibat efek dari pandemi.

Tak hanya Filipina, perekonomian di Malaysia, Thailand dan Indonesia juga akan berdampak dari pandemi Covid-19 yang tak kunjung berlarut, seiring dari penyebaran yang masif varian Delta.

Indonesia

Di Indonesia, kemungkinannya hal ini sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun 2021 dan pertumbuhan yang sebelumnya diprediksi mencapai 4,8% mungkin saja tidak tercapai.

Pemerintah RI pun kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini sebesar 3,7% – 4,5%.

Fitch mengatakan bahwa konsolidasi fiskal yang diperhatikan salah satunya adalah kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) oleh pemerintah RI akan ditunda hingga tahun 2022 mendatang.

Hal ini tentunya akan mempersulit pemerintah untuk mencapai tujuan dengan membawa defisit anggaran kembali di bawah batas pra-pandemi sebesar 3% dari PDB (produk domestik bruto) pada tahun 2023.

Langkah-langkah kebijakan yang tidak lazim, termasuk pembiayaan bank sentral defisit, dapat diperpanjang, dengan kemungkinan efek pada sentimen pasar dan kredibilitas kebijakan. Fitch menandai bahwa risiko ini sebagai sensitivitas peringkat negatif dalam ulasan terakhirnya pada Maret lalu.

Pada 19 Maret lalu, Fitch sudah mempertahankan peringkat utang Indonesia atau Sovereign Credit Rating pada peringkat BBB (Invesment grade) dengan outlook stabil.

Malaysia dan Vietnam

Di sisi lain, Fitch menegaskan bahwa peringkat utang Malaysia berada di peringkat BBB+ dengan outlook stabil pada 18 Juli, meskipun kasus meningkat dan pengumumannya tentang langkah-langkah pengeluaran fiskal baru untuk melawan efek penguncian pada ekonomi.

Hal ini mencerminkan bahwa kekuatan struktural berdaulat yang mendasarinya akan membantu mengisolasinya terhadap guncangan pandemi.

Ekspor dapat tetap menjadi sumber pendukung utama bagi perekonomian Asia Tenggara, seperti yang mereka lakukan hingga 2020.Tetapi dengan efek yang berkurang karena kondisi permintaan mulai normal di pasar negara maju.

Manufaktur ekspor di Vietnam dan Malaysia juga dapat tergerus akibat serangan varian Delta. Namun otoritas setempat telah memprioritaskan sektor ini dengan pengecualian selama penguncian, diharapkan dapat mengurangi dampak yang sangat besar pada pertumbuhan produk domestik beruto (PDB).

Wabah yang belum sepenuhnya berhasil ditaklukkan kembali mempengaruhi prospek bagi negara-negara dengan sektor pariwisata besar seperti Thailand, Vietnam dan Filipina.

Thailand

Gelombang infeksi terbaru datang karena Thailand telah mulai bereksperimen dengan pembukaan bebas karantina kepada wisatawan yang divaksinasi.

Pemerintah setempat telah merespons dengan mengumumkan pengeluaran baru dan langkah-langkah peminjaman untuk mengatasi dampak ekonomi, menggambarkan bagaimana kemunduran tersebut dapat menambah tekanan pada keuangan publik.

Kemajuan vaksinasi dapat secara bertahap membantu meringankan risiko ekonomi dan fiskal dan tekanan peringkat terkait. Singapura, yang program vaksinasinya maju dengan baik, kini sedang mempersiapkan negara itu untuk hidup normal dengan Covid-19 sebagai penyakit ‘endemik’.

Meskipun demikian, mereka telah bergerak untuk memperketat pembatasan aktivitas sosial secara signifikan pada bulan inisebagai tanggapan terhadap meningkatnya jumlah kasus, menggambarkan potensi strain virus baru untuk menyajikan kemunduran lebih lanjut, bahkan di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi yang relatif tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *